Minggu, 09 Juli 2017

Keheningan di Kereta Malam

Tak ada suara apa-apa di sini
Yang terdengar hanya suara rel yang sesekali berdecit
Terkadang membuat suara ngilu di telinga ketika masinis menarik remnya
Atau suara seperti sirine, itu pun hanya setiap kali lewat di salah satu stasiun
Entah akan berhenti sebentar atau langsung melaju
Sangat sunyi dan sepi.
Hampir semua penumpang terlelap, menikmati mimpinya
Berharap ketika terbangun, kereta sudah sampai di stasiun tujuan
Beberapa juga ada yang terjaga, entah sekadar untuk menyesap minuman hangat, berjalan ke toilet, atau menikmati perjalanan malam
Mereka yang terjaga pun memilih untuk diam
Membuat suasana tetap hening seutuhnya
Khawatir kalau kalau sanak keluarga yang sedang lelap terbangun karena suaranya

Tersadar bahwa ternyata sesaat sepi itu perlu
Tak ada seseorang yang mengganggu, bahkan saudara sekali pun
Jauh dari hingar bingar kota
Jauh dari mereka yang mungkin hanya bisa mencaci ini dan itu
Jauh dari keramaian yang terkadang menyesakkan
Memandangi kota yang juga telah sunyi dan sepi dari jendela
Sesekali kota terlihat cantik dengan sunyinya
Hanya lampu-lampu rumah penduduk yang terlihat seperti taburan bintang
Sangat indah dan menenangkan.

Ternyata kesendirian itu perlu.
Bukan hanya agar menghargai adanya sebuah kebersamaan
Tapi menjadikan waktu untuk diri ini merenung, muhasabah diri
Sudah berbuat apa saja selama hidup di dunia?
Apakah lebih banyak berbuat kebaikan atau kerusakan?
Amal apa saja yang sudah dilakukan?
Sudah cukupkah amal itu sebagai bekal di akhirat?
Berapa banyak waktu yang sudah habis terlewati sia-sia?
Astaghfirullaah.
Ternyata diri ini masih terlalu jauh dari kata baik
Tapi malah merasa sudah yang paling baik.

Ternyata berjarak itu perlu.
Bukan hanya agar menghargai sebuah pertemuan
Tapi menjadikan ini sebagai momen memperbaiki diri
Karena terkadang bersama-sama justru malah melukai
Maka ada baiknya jika berjarak untuk sesaat
Tapi jangan selamanya.
Karena suatu saat, kamu akan butuh kebersamaan itu.
Kalau saat bersama terasa begitu menyesakkan, coba periksa hatimu
Mungkin imanmu yang kurang kokoh
Atau imanku?

Selamat jalan untuk kamu yang masih setia berjaga. Semoga selamat sampai tujuan.
Dari aku yang terjaga menikmati keheningan yang tak bisa kudapatkan jika sudah sampai ditujuan.

Rabu, 05 Juli 2017

Menjaga Berbuat Kebaikan

Perlu diketahui bahwa sesungguhnya setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Orang tua kita lah yang menjadikan kita nasrani, majusi, yahudi, dan sebagainya.

Allah SWT berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ  مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا  بِاَنْفُسِهِمْ  ؕ  وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ  وَمَا لَهُمْ  مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd: Ayat 11)

Oleh karena itu, sebagai manusia yang terlahir dalam keadaan fitrah sudah seharusnya kita senantiasa berbuat baik. Karena dengan menjaga kebaikan, kita dapat mengembalikan diri kepada fitrah kita sejak lahir.

Berbuat baik adalah tanda ikhtiar kita sebagai manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Selain itu, pada setiap kebaikan yang kita lakukan, kita dapat menularkan kebaikan itu pada setiap orang yang berada di sekitar kita. Setiap kebaikan yang ada pasti akan menghasilkan kebaikan yang lainnya. Sebaliknya, setiap keburukan yang ada pasti akan menghasilkan keburukan yang lainnya pula.

Gimana sih biar kita istiqomah dalam berbuat kebaikan?

Dari berbagai kajian yang pernah aku ikuti, hal yang paling utama agar kita bisa istiqomah dalam kebaikan adalah kita perlu melakukan muhasabah diri. Muhasabah dilakukan agar kita bisa memperbaiki diri. Muhasabah dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Tidak harus mengikuti kegiatan muhasabah akbar untuk bisa muhasabah diri. Contohnya sebelum tidur malam, kita bisa mengingat-ingat sehari ini sudah melakukan kebaikan dan keburukan apa saja.

Setelah itu, kita perlu mengingat keuntungan/keutamaan berbuat baik. Hal ini sangat perlu dilakukan ketika kita sedang futur. Perkembangan teknologi sekarang sudah semakin pesat. Kita bisa dengan mudah mengakses internet. Ada baiknya, internet yang ada kita manfaatkan untuk mencari ilmu dan mencari manfaat apa saja yang bisa kita dapatkan ketika berbuat baik. Kalau kita tahu apa saja manfaatnya, rasa semangat akan senantiasa berbuat baik akan muncul.

Selanjutnya, ketekunan dalam melaksanakan kebaikan sangatlah diperlukan. Biar sedikit yang penting istiqomah! Yang sedikit dan istiqomah lebih baik daripada banyak tapi cuma sekali saja. Mungkin pertama-tama harus dipaksa karena merasa berat. Tapi itu tidak masalah! Semua bisa karena terbiasa. Yuk, kita coba buat amalan-amalan andalan. Coba buat 1 amalan andalan dan lakukan dengan istiqomah. In syaa Allah itu akan sangat bermanfaat.

Kemudian kita harus bisa menghindarkan diri dari sikap berlebih-lebihan dalam berbuat kebaikan.
Memang betul, menjadi baik itu baik, tapi yang berlebih-lebihan itu juga tidak baik. Memaksakan diri itu tidak baik. Itu namanya kita menzalimi diri sendiri. Lebih baik berbuat kebaikan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Hal lain yang dapat membuat kita istiqomah dalam berbuat baik adalah menghibur diri dalam berbuat kebaikan. Nah, menghibur diri ini boleh loh agar kita tidak jenuh, tapi kita harus tahu batasannya yaaa.. Selain itu, ada baiknya kita menjalin hubungan dengan orang sholeh dan pejuang kebaikan. Pernah dengar cerita seseorang yang berteman dengan penjual parfum, kan? Nah seperti itu lah analoginya. In syaa Allah, apabila kita menjalin hubungan dengan orang sholeh/ah kita juga bisa menjadi sholeh/ah.

Cara yang terakhir, sebaiknya kita selalu menghadiri majelis ilmu. Saat kita berada di majelis ilmu, malaikat membentangkan sayapnya menaungi orang-orang yang berada di dalam majelis tersebut dan meng-aamin-kan setiap do'a di dalamnya.

"Jika orang lain melihatmu berbeda.
Yakinlah, engkau tidak terlihat berbeda di hadapan Allah."
-Panji Ramdana, 'Menuju Baik Itu Baik'-
Diberdayakan oleh Blogger.