Kali ini cuma mau bahas tentang kata "ambisius" dan sedikit cerita ya๐
Sebelumnya mau minta maaf dulu ya buat teman-teman yang membaca post-an ini. Mohon maaf apabila ada salah salah kata, mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan dan menyinggung perasaan teman teman. Ketahuilah ini bisa dibilang hanya sedikit "curhat" yang diambil dari sisi saya. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyindir, menyinggung, atau bahkan sampai menyakiti hati teman teman. Trust me!๐
Okey, here we go.
Semenjak SMA banyak hal yang berubah.
Mulai dari lingkungan, teman-teman, guru, cara belajar, waktu belajar, bahkan sampai ke waktu tidur pun berubah. Jujur sempet merasa lelah banget dan sampai ngebatin, "Ah kayanya salah masuk sekolah deh."
Tapi setelah itu saya sadar kalau saya telah memilih, maka saya harus menjalaninya.
Pertama kali ulangan harian di SMA bener-bener kaget ngeliat hasilnya yang ternyata di bawah KKM. Kecewa? Pasti. Tapi saya ngerasa kalau mungkin usaha saya belum keras, mungkin saya masih males-malesan, atau mungkin saya kurang berdo'a. Saat itu saya hanya berhusnudzon saja.
Hari demi hari telah terlewati.
Sudah hampir 3 tahun saya menjalani masa masa SMA. Tak terasa, ternyata tinggal beberapa bulan lagi saya akan keluar dari sekolah tercinta.
Berbagai macam ujian sudah kujalani. Berbagai macam nilai juga sudah kudapat. Do-re-mi-fa-sol-la-si-dรณ. Alhamdulillah.
Sering banyang yang berkata seperti ini:
SD : dapet nilai 80, 90, 100 udah biasa
SMP : dapet nilai 80 udah bagus
SMA : dapet nilai pas kkm sudah luar biasa
Dengan variasi nilai yang hanya berputar pada mi-fa-sol-la, membuat hampir 80% teman sekolahku sangat "ambisius". Mereka bekerja keras untuk bisa mendapat nilai yang minimal pas kkm. Hal ini membuat mereka sangat bersemangat dan termotivasi untuk mendapat nilai yang lebih baik. Bagaimana tidak? Saya sangat yakin, harapan semua anak SMA tingkat akhir tuh sama. Yaitu mendapatkan SNMPTN undangan yang seleksinya membutuhkan nilai raport yang baik. Meskipun sampai sekarang tidak ada yang tau bagaimana kriteria pasti yang akan mendapat undangan. Tapi, semua orang tau pasti kalau untuk bisa lolos SNMPTN harus punya nilai raport yang sangat bagus, grafik nilai naik, dll.
Saya sangat senang, karena saya jadi ikut termotivasi untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya. Tapi yang bikin saya sedih adalah kata kata ambisius ini jadi salah arti. Seperti yang saya bilang di awal, ini cuma dari sisi pandang saya. Menurut saya, ambisius itu perlu dan baik jika memang dijadikan motivasi. Dengan ambisius kita jadi termotivasi untuk bekerja keras mengejar segala cita-cita yang nggak bisa digapai secara instan. Akan tetapi, banyak teman teman saya yang sangat ambisius sampai sampai menghalalkan segala cara untuk bisa mendapat nilai lebih dengan menyontek, membuat contekan ulangan, dan masih banyak lagi. Padahal dari sisi pandang saya, teman teman saya itu adalah seorang yang pintar, bahkan mungkin lebih pintar dari saya, dan saya yakin tanpa menyontek mereka pun bisa mendapat nilai yang baik jika bekerja keras. Nah, kata kata ambisius kini bukan hanya membuat teman saya termotivasi tetapi juga membuat mereka tidak percaya diri.
Bukannya saya sok alim atau apalah karena tidak mau menyontek, tapi saya memang selalu berusaha untuk bekerja jujur. Kenapa? Karena saya merasa puas dengan segala nilai yang saya dapat, meskipun nilai itu jauh di bawah KKM, tapi saya bersyukur karena nilai itu adalah hasil kerja keras saya. Justru saya akan merasa kecewa ketika saya mendapat nilai 100 tetapi didapat dengan hasil yang nggak jujur. Dengan nyontek kita tidak hanya membohongi guru, tetapi juga membohongi diri sendiri, dan orang tua. Selain itu kita juga merugikan orang lain dan diri sendiri. Ketika kita nyontek, kita nggak akan dapat ilmu apa apa, karena itu hasil kerja orang lain, bukan diri sendiri.
Kesimpulan dari post-an ini adalah ambisius itu baik dan boleh aja ketika disikapi dengan sikap yang positif juga. Contohnya jadi makin giat belajar, makin dekat sama Allah untuk meminta hasil terbaik, memiliki motivasi tersendiri, dll.
Tetapi ambisius akan jadi salah ketika disikapi dengan sikap yang negatif. Hal ini dapat membuat kita melakukan segala macam cara untuk dapat apa yang kita mau, bahkan meskipun cara itu merugikan orang lain dan diri sendiri.
Percayalah, rezeki itu tidak akan tertukar. Jika kita mau berusaha keras dan berdoa, in syaa Allah kita akan mendapat hasil yang terbaik. Jika memang belum mendapatkannya, mungkin itu bukan yang terbaik untuk kita, Allah punya rencana yang lebih baik dari apa yang kita inginkan.
Just do your best. Allah knows what you've done.
Sering banyang yang berkata seperti ini:
SD : dapet nilai 80, 90, 100 udah biasa
SMP : dapet nilai 80 udah bagus
SMA : dapet nilai pas kkm sudah luar biasa
Dengan variasi nilai yang hanya berputar pada mi-fa-sol-la, membuat hampir 80% teman sekolahku sangat "ambisius". Mereka bekerja keras untuk bisa mendapat nilai yang minimal pas kkm. Hal ini membuat mereka sangat bersemangat dan termotivasi untuk mendapat nilai yang lebih baik. Bagaimana tidak? Saya sangat yakin, harapan semua anak SMA tingkat akhir tuh sama. Yaitu mendapatkan SNMPTN undangan yang seleksinya membutuhkan nilai raport yang baik. Meskipun sampai sekarang tidak ada yang tau bagaimana kriteria pasti yang akan mendapat undangan. Tapi, semua orang tau pasti kalau untuk bisa lolos SNMPTN harus punya nilai raport yang sangat bagus, grafik nilai naik, dll.
Saya sangat senang, karena saya jadi ikut termotivasi untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya. Tapi yang bikin saya sedih adalah kata kata ambisius ini jadi salah arti. Seperti yang saya bilang di awal, ini cuma dari sisi pandang saya. Menurut saya, ambisius itu perlu dan baik jika memang dijadikan motivasi. Dengan ambisius kita jadi termotivasi untuk bekerja keras mengejar segala cita-cita yang nggak bisa digapai secara instan. Akan tetapi, banyak teman teman saya yang sangat ambisius sampai sampai menghalalkan segala cara untuk bisa mendapat nilai lebih dengan menyontek, membuat contekan ulangan, dan masih banyak lagi. Padahal dari sisi pandang saya, teman teman saya itu adalah seorang yang pintar, bahkan mungkin lebih pintar dari saya, dan saya yakin tanpa menyontek mereka pun bisa mendapat nilai yang baik jika bekerja keras. Nah, kata kata ambisius kini bukan hanya membuat teman saya termotivasi tetapi juga membuat mereka tidak percaya diri.
Bukannya saya sok alim atau apalah karena tidak mau menyontek, tapi saya memang selalu berusaha untuk bekerja jujur. Kenapa? Karena saya merasa puas dengan segala nilai yang saya dapat, meskipun nilai itu jauh di bawah KKM, tapi saya bersyukur karena nilai itu adalah hasil kerja keras saya. Justru saya akan merasa kecewa ketika saya mendapat nilai 100 tetapi didapat dengan hasil yang nggak jujur. Dengan nyontek kita tidak hanya membohongi guru, tetapi juga membohongi diri sendiri, dan orang tua. Selain itu kita juga merugikan orang lain dan diri sendiri. Ketika kita nyontek, kita nggak akan dapat ilmu apa apa, karena itu hasil kerja orang lain, bukan diri sendiri.
Kesimpulan dari post-an ini adalah ambisius itu baik dan boleh aja ketika disikapi dengan sikap yang positif juga. Contohnya jadi makin giat belajar, makin dekat sama Allah untuk meminta hasil terbaik, memiliki motivasi tersendiri, dll.
Tetapi ambisius akan jadi salah ketika disikapi dengan sikap yang negatif. Hal ini dapat membuat kita melakukan segala macam cara untuk dapat apa yang kita mau, bahkan meskipun cara itu merugikan orang lain dan diri sendiri.
Percayalah, rezeki itu tidak akan tertukar. Jika kita mau berusaha keras dan berdoa, in syaa Allah kita akan mendapat hasil yang terbaik. Jika memang belum mendapatkannya, mungkin itu bukan yang terbaik untuk kita, Allah punya rencana yang lebih baik dari apa yang kita inginkan.
Just do your best. Allah knows what you've done.

0 comments:
Posting Komentar