Jumat, 11 Desember 2015

Masa

Jika aku bisa hentikan waktu,
Aku ingin mengulang segalanya
Membuatnya jadi jauh lebih bermakna
Membuatnya jadi lebih indah

Tersadar,
Bahwa masa ini akan segera berakhir
Meninggalkan banyak kenangan
Entah itu sebuah kebahagiaan,
Atau sebuah kesedihan dan penyesalan.
Hingga kemudian, akan hilang terkubur waktu.

Sahabat.
Mereka adalah orang yang berharga untukku
Masa-masa bersama mereka adalah masa terbaik yang pernah ada dalam hidupku
Dimulai dari awal pertemuan
Lalu mencoba untuk saling mengenal
Mencoba lebih memahami
Hingga terjalin sebuah ukhuwah.

Masa pun silih berganti.
Kini, ukhuwah begitu terasa menyakitkan
Tidak. Ukhuwah tidak mungkin menyakitkan
Mungkin imanku yang kurang kokoh
Atau imanmu?

Tuhan, waktu kami hampir habis
Tapi kenapa?
Kami masih saja memendam benci
Mulut kami masih tak berhenti mencaci
Diri kami masih saja merasa paling tak dimengerti
Astaghfirullah.

Aku mencoba untuk memperbaiki ini
Mencoba mengembalikan masa masa indah itu
Agar saat masa ini berakhir,
Ketika aku merindukannya,
Aku dapat menoleh ke belakang,
Melihat segala sesuatu tanpa rasa takut.
Kemudian dapat aku ceritakan semuanya pada seisi dunia bahwa bahagia itu sederhana,
Ketika kau merindukan teman-temanmu,
Kau cukup mengingat hari itu,
Hari dimana kita bersama mengukir banyak kisah.

Waktuku hampir habis, Tuhan.
Kumohon jaga ukhuwah ini sampai ke jannah-Mu.

Senin, 07 Desember 2015

Ambisius. Perlu nggak sih?

HAI!
Kali ini cuma mau bahas tentang kata "ambisius" dan sedikit cerita ya๐Ÿ˜Š
Sebelumnya mau minta maaf dulu ya buat teman-teman yang membaca post-an ini. Mohon maaf apabila ada salah salah kata, mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan dan menyinggung perasaan teman teman. Ketahuilah ini bisa dibilang hanya sedikit "curhat" yang diambil dari sisi saya. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyindir, menyinggung, atau bahkan sampai menyakiti hati teman teman. Trust me!๐Ÿ˜
Okey, here we go.

Semenjak SMA banyak hal yang berubah.
Mulai dari lingkungan, teman-teman, guru, cara belajar, waktu belajar, bahkan sampai ke waktu tidur pun berubah. Jujur sempet merasa lelah banget dan sampai ngebatin, "Ah kayanya salah masuk sekolah deh."
Tapi setelah itu saya sadar kalau saya telah memilih, maka saya harus menjalaninya.

Pertama kali ulangan harian di SMA bener-bener kaget ngeliat hasilnya yang ternyata di bawah KKM. Kecewa? Pasti. Tapi saya ngerasa kalau mungkin usaha saya belum keras, mungkin saya masih males-malesan, atau mungkin saya kurang berdo'a. Saat itu saya hanya berhusnudzon saja.

Hari demi hari telah terlewati.
Sudah hampir 3 tahun saya menjalani masa masa SMA. Tak terasa, ternyata tinggal beberapa bulan lagi saya akan keluar dari sekolah tercinta.
Berbagai macam ujian sudah kujalani. Berbagai macam nilai juga sudah kudapat. Do-re-mi-fa-sol-la-si-dรณ. Alhamdulillah.

Sering banyang yang berkata seperti ini:
SD : dapet nilai 80, 90, 100 udah biasa
SMP : dapet nilai 80 udah bagus
SMA : dapet nilai pas kkm sudah luar biasa

Dengan variasi nilai yang hanya berputar pada mi-fa-sol-la, membuat hampir 80% teman sekolahku sangat "ambisius". Mereka bekerja keras untuk bisa mendapat nilai yang minimal pas kkm. Hal ini membuat mereka sangat bersemangat dan termotivasi untuk mendapat nilai yang lebih baik. Bagaimana tidak? Saya sangat yakin, harapan semua anak SMA tingkat akhir tuh sama. Yaitu mendapatkan SNMPTN undangan yang seleksinya membutuhkan nilai raport yang baik. Meskipun sampai sekarang tidak ada yang tau bagaimana kriteria pasti yang akan mendapat undangan. Tapi, semua orang tau pasti kalau untuk bisa lolos SNMPTN harus punya nilai raport yang sangat bagus, grafik nilai naik, dll.

Saya sangat senang, karena saya jadi ikut termotivasi untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya. Tapi yang bikin saya sedih adalah kata kata ambisius ini jadi salah arti. Seperti yang saya bilang di awal, ini cuma dari sisi pandang saya. Menurut saya, ambisius itu perlu dan baik jika memang dijadikan motivasi. Dengan ambisius kita jadi termotivasi untuk bekerja keras mengejar segala cita-cita yang nggak bisa digapai secara instan. Akan tetapi, banyak teman teman saya yang sangat ambisius sampai sampai menghalalkan segala cara untuk bisa mendapat nilai lebih dengan menyontek, membuat contekan ulangan, dan masih banyak lagi. Padahal dari sisi pandang saya, teman teman saya itu adalah seorang yang pintar, bahkan mungkin lebih pintar dari saya, dan saya yakin tanpa menyontek mereka pun bisa mendapat nilai yang baik jika bekerja keras. Nah, kata kata ambisius kini bukan hanya membuat teman saya termotivasi tetapi juga membuat mereka tidak percaya diri.
Bukannya saya sok alim atau apalah karena tidak mau menyontek, tapi saya memang selalu berusaha untuk bekerja jujur. Kenapa? Karena saya merasa puas dengan segala nilai yang saya dapat, meskipun nilai itu jauh di bawah KKM, tapi saya bersyukur karena nilai itu adalah hasil kerja keras saya. Justru saya akan merasa kecewa ketika saya mendapat nilai 100 tetapi didapat dengan hasil yang nggak jujur. Dengan nyontek kita tidak hanya membohongi guru, tetapi juga membohongi diri sendiri, dan orang tua. Selain itu kita juga merugikan orang lain dan diri sendiri. Ketika kita nyontek, kita nggak akan dapat ilmu apa apa, karena itu hasil kerja orang lain, bukan diri sendiri.

Kesimpulan dari post-an ini adalah ambisius itu baik dan boleh aja ketika disikapi dengan sikap yang positif juga. Contohnya jadi makin giat belajar, makin dekat sama Allah untuk meminta hasil terbaik, memiliki motivasi tersendiri, dll.
Tetapi ambisius akan jadi salah ketika disikapi dengan sikap yang negatif. Hal ini dapat membuat kita melakukan segala macam cara untuk dapat apa yang kita mau, bahkan meskipun cara itu merugikan orang lain dan diri sendiri.

Percayalah, rezeki itu tidak akan tertukar. Jika kita mau berusaha keras dan berdoa, in syaa Allah kita akan mendapat hasil yang terbaik. Jika memang belum mendapatkannya, mungkin itu bukan yang terbaik untuk kita, Allah punya rencana yang lebih baik dari apa yang kita inginkan.

Just do your best. Allah knows what you've done.

Senyum

Ketika kau merasa sedih,
Ketika kau kecewa,
Ketika kau tak mendapat apa yang kau inginkan,
Ketika kau telah berusaha sekuat tenaga namun tak membuahkan hasil,
Ketika kau merasa sakit,
Tersenyumlah.

Ketika kau merasa sendiri,
Ketika kau merasa terasingkan,
Ketika kau merasa semua orang meninggalkanmu,
Ketika kau merasa telah menjadi manusia yang paling tidak beruntung,
Tersenyumlah.

Tersenyumlah kawan,
Hingga hilang rasa sedihmu
Hingga hilang rasa sakitmu

Dengan tersenyum,
Akan ada aura positif yang hadir padamu
Membuatmu merasa jauh lebih baik
Membuatmu terlihat lebih tegar

Bangkitlah kawan,
Berikan senyuman manismu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa kau lebih dari sekedar yang mereka lihat
Kau lebih kuat dari karang di laut
Lebih gigih dari ombak yang mencoba menggapai tepian laut
Lebih kokoh dari batang pohon yang sudah bertahun-tahun hidup

Ingatlah kawan,
Senyum akan membuat keadaan jauh lebih baik
Bukan hanya itu,
Senyummu di hadapan saudaramu adalah shadaqah

Smile, its sunnah! :)

Jumat, 23 Januari 2015

Tolong Mengerti

Marah. Kecewa.
Mungkin kata itu yang masih sama-sama kita rasakan
Setelah semua yang sudah terjadi, apakah aku tidak boleh marah?

Jelas saja aku marah, atau mungkin kamu juga marah
Saat itu aku sudah berusaha semampuku untuk membuat suasana antara kita menjadi lebih baik
Namun disaat aku berusaha memperbaiki, mengapa justru kau berbuat sebaliknya?
Kau sendiri yang membuat jarak antara kita semakin jauh

Ah tidak. Ku rasa kau pasti berfikir seperti itu juga tentangku.

Kalau sudah begini, apa yang harus kulakukan?
Kita masih saja merasa paling benar
Ternyata ego kita masih menang dalam keadaan ini

Jarak yang tercipta kini semakin jauh, kawan

Jangankan untuk menyapa, untuk senyum ketika bertemu saja rasanya getir
Jangankan tersenyum, untuk bertemu saja rasanya enggan

Saling menghindar.
Itulah yang kita lalukan hingga sekarang.

Jujur, aku risih dengan keadaan yang seperti ini
Kumohon, mengertilah...
Setelah hari itu, tidak akan ada hal yang sama lagi

Mengertilah...
Aku tak ingin memutuskan tali persaudaraan antara aku denganmu
Kau terlalu baik, sahabatku..

Aku tak bisa kehilangan sahabat baik sepertimu
Kita sama-sama tahu, ini bukan hal yang baik
Tapi, kenapa kita masih saja seperti ini?

Beribu kata maaf sudah kuucapkan
Namun, sampai sekarang aku tak mendapatkan kata darimu bahwa kau memaafkanku
Andai saja berbuat salah itu bukan hal yang manusiawi, maka aku akan menyuruhmu untuk tidak memaafkanku
Tapi, tolong jelaskan padaku sejenak. Apa salahku?

Semarah itu kah kau padaku?
Kumohon, maafkan aku kawan..
Aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu
Dan aku yakin kau pun juga tak bermaksud seperti itu. Benar kan?

Mari kita awali semua dari awal lagi. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya
Beri aku kesempatan untuk bisa tetap menjadi sahabatmu
Jangan biarkan kita semakin tenggelam dalam lautan amarah.

Tersenyumlah ketika kau melihatku
Sapa lah jika kau ingin menyapaku. Jangan menghindar lagi
Aku tak ingin kita sama-sama menjadi orang yang merugi karena memutus tali persaudaraan.

Kumohon, mengertilah...
Diberdayakan oleh Blogger.