“Nggak ada lagi yang perlu kita
bicarakan. Semua udah jelas. Aku benci sama kamu!” *prak*
Aku
sudah kehabisan kata-kata saat itu, sungguh. Berusaha tenang di tengah
dinginnya malam, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Setelah itu, dia pergi meninggalkanku. Aku tak ada niatan untuk mencegah
atau menahannya untuk tinggal, dia pun tidak memalingkan wajahnya lagi ke
arahku. Kini aku terduduk sendiri.
Sekarang,
apa lagi?
Hujan turun
dan membasahi sekujur tubuhku. Bagus. Takkan ada yang bisa melihat tangisku di
sini, takkan ada yang bisa mendengar jeritanku di tengah hujan dan petir. Perih.
Aku
berjalan dengan tubuh gemetar kedinginan, bibirku mulai memucat, kepalaku
pening. Langkahku terhenti di sebuah kedai kopi. Semua orang memandangiku risih
atau mungkin bukan risih tapi ‘kasihan’. Seperti anak pinggir jalan yang tidak
punya siapa siapa dan tidak punya arah. Itulah aku.
“Kopi
hangatnya satu” kataku lirih
Aku
duduk dipinggir jendela menghadap jalanan, tempat biasa ketika aku sedang
mengalami ke-galau-an. Masih dalam keadaan gemetar. Lelah. Pikiranku sudah
terbang jauh atau mungkin aku sudah tidak punya akal sehat. Apa yang sudah kulakukan
sebenarnya? Aku membuka ponselku, mengetik namamu di contact bbm. Tidak ada.
Rupanya kamu sudah benar benar pergi.
Seorang
lelaki tinggi, tampan, rambut cepak, mata sipit. Kamu. Itu kamu kan? Mataku
buram, sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Inginku memastikan bahwa lelaki
yang baru saja memesan minum dan sekarang berdiri di hadapanku itu adalah kamu.
“Boleh
duduk di sini? Sudah tak ada tempat kosong di kedai ini” katamu
“Silahkan.
Kamu…..” tiba-tiba lidahku kelu. Aku baru sadar kalau itu bukan kamu.
Keheningan
terjadi beberapa waktu. Beberapa kali hanya suara petir yang memecah keheningan
ini. Aku enggan untuk angkat bicara, sepertinya dia juga. Aku memandanginya,
memperhatikan setiap lekuk wajahnya. Tenang. Damai. Itu yang kulihat dari
wajahnya. Entah, sepertinya orang ini taka sing.
“Kamu
kenapa?” Akhirnya, dia angkat bicara.
“Ehh.. Peduli
apa kamu? Untuk apa bertanya seperti itu?”
Mendengar
jawabanku, aku kira dia akan enggan untuk bertanya lagi, tapi ternyata dia
malah tersenyum hangat dan mencoba untuk membuatku tenang.
“Aku
mungkin tak mengenalmu, begitupun sebaliknya. Tapi sepertinya kamu membutuhkan
teman. Ingin berteman denganku? Aku bisa menjadi
pendengar yang baik” Ucapan itu diakhirinya dengan senyum hangat, dia mengulurkan tangannya untuk berteman denganku. Entahlah, aku
baru saja bertemu dengannya, tapi saat melihat senyumnya aku merasa kedamaian. Terpaksa aku menjabat tangannya.
"Aku Fado. Kamu?"
"Vina" Jawabku lirih. Aku menyeruput kopi hangatku.
"Jadi.... Kau kenapa?"
“Aku
kehilangan segalanya. Tidak memiliki siapapun. Aku kesepian, tidak tahu harus
berbuat apa dan kemana.” Aku menangis dengan penuh sesak, kepalaku terasa
semakin pening, aku terbatuk-batuk. Tapi aku berusaha untuk melanjutkan
ceritaku, dia tidak menyuruhku untuk berhenti bercerita.
Sentuhan
lembut jatuh di pipiku. Dia yang ada di hadapanku sekarang menyeka seluruh air
mataku, tersenyum hangat. Senyumnya yang sangat hangat seperti memberikan tanda
bahwa dia ingin bicara “jangan khawatir,
aku ada di sini”.
"Banyak yang ingin kuceritakan, namun aku tak mampu. Hampa. Mungkin satu kata itu sangat pas untuk saat ini"
Pelukan
hangat, itu yang kurasakan sekarang. Dia memelukku erat dan membiarkan aku
menangis dipelukkanya, membiarkanku membagi semua bebanku. Aku baru saja mengenalnya, tapi pelukan itu membuatku tenang,
aku merasakan kehangatan menyelimuti hatiku.
“Aku
antar ke rumah sakit ya? Badanmu panas sekali, aku takut terjadi sesuatu
denganmu” itu perkataan terakhir yang ku dengar. Ternyata aku pingsan dalam
pelukannya. Saatku tersadar aku sudah berada di rumah sakit, dia tidur di
sebelahku.
Aku
memandanginya, dia tertidur pulas. Wajahnya teduh seperti malaikat. Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu bisa
hadir di saat yang sangat tepat? Air mata membasahi pipiku. Dia terbangun.
“Kamu
baik-baik aja? Aku senang kamu sudah sadar” Dia menyeka air mata yang baru saja
membasahi pipiku. Aku menyentuh tangannya. Dia tersenyum.
“Kamu
siapa? Kenapa kamu sangat baik dan peduli sama aku?” tanyaku.
"Terkadang, kamu hanya perlu pahami. Bahwa ada seorang yang selalu memperhatikanmu namun selalu kamu abaikan. Tapi itu tak menjadi masalah buatku. Tenanglah, anggap saja aku malaikat kecil yang sejak dulu memperhatikanmu, namun tak kau sadari."
Lalu, dia pergi meninggalkan ruangan ini.
"Jadi dia itu..." Aku melepas paksa infusan di tanganku, turun dari ranjang, kemudian berlari mengejarnya.
"Terkadang, kamu hanya perlu pahami. Bahwa ada seorang yang selalu memperhatikanmu namun selalu kamu abaikan. Tapi itu tak menjadi masalah buatku. Tenanglah, anggap saja aku malaikat kecil yang sejak dulu memperhatikanmu, namun tak kau sadari."
Lalu, dia pergi meninggalkan ruangan ini.
"Jadi dia itu..." Aku melepas paksa infusan di tanganku, turun dari ranjang, kemudian berlari mengejarnya.

0 comments:
Posting Komentar