Jumat, 17 Oktober 2014

Jangan Khawatir, Aku di Sini


“Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semua udah jelas. Aku benci sama kamu!” *prak*

Aku sudah kehabisan kata-kata saat itu, sungguh. Berusaha tenang di tengah dinginnya malam, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Setelah itu, dia pergi meninggalkanku. Aku tak ada niatan untuk mencegah atau menahannya untuk tinggal, dia pun tidak memalingkan wajahnya lagi ke arahku. Kini aku terduduk sendiri.

Sekarang, apa lagi?
Hujan turun dan membasahi sekujur tubuhku. Bagus. Takkan ada yang bisa melihat tangisku di sini, takkan ada yang bisa mendengar jeritanku di tengah hujan dan petir. Perih.

Aku berjalan dengan tubuh gemetar kedinginan, bibirku mulai memucat, kepalaku pening. Langkahku terhenti di sebuah kedai kopi. Semua orang memandangiku risih atau mungkin bukan risih tapi ‘kasihan’. Seperti anak pinggir jalan yang tidak punya siapa siapa dan tidak punya arah. Itulah aku.
“Kopi hangatnya satu” kataku lirih
Aku duduk dipinggir jendela menghadap jalanan, tempat biasa ketika aku sedang mengalami ke-galau-an. Masih dalam keadaan gemetar. Lelah. Pikiranku sudah terbang jauh atau mungkin aku sudah tidak punya akal sehat. Apa yang sudah kulakukan sebenarnya? Aku membuka ponselku, mengetik namamu di contact bbm. Tidak ada. Rupanya kamu sudah benar benar pergi.

Seorang lelaki tinggi, tampan, rambut cepak, mata sipit. Kamu. Itu kamu kan? Mataku buram, sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Inginku memastikan bahwa lelaki yang baru saja memesan minum dan sekarang berdiri di hadapanku itu adalah kamu.
“Boleh duduk di sini? Sudah tak ada tempat kosong di kedai ini” katamu
“Silahkan. Kamu…..” tiba-tiba lidahku kelu. Aku baru sadar kalau itu bukan kamu.

Keheningan terjadi beberapa waktu. Beberapa kali hanya suara petir yang memecah keheningan ini. Aku enggan untuk angkat bicara, sepertinya dia juga. Aku memandanginya, memperhatikan setiap lekuk wajahnya. Tenang. Damai. Itu yang kulihat dari wajahnya. Entah, sepertinya orang ini taka sing.
“Kamu kenapa?” Akhirnya, dia angkat bicara.
“Ehh.. Peduli apa kamu? Untuk apa bertanya seperti itu?”
Mendengar jawabanku, aku kira dia akan enggan untuk bertanya lagi, tapi ternyata dia malah tersenyum hangat dan mencoba untuk membuatku tenang.

“Aku mungkin tak mengenalmu, begitupun sebaliknya. Tapi sepertinya kamu membutuhkan teman. Ingin berteman denganku? Aku bisa menjadi pendengar yang baik” Ucapan itu diakhirinya dengan senyum hangat, dia mengulurkan tangannya untuk berteman denganku. Entahlah, aku baru saja bertemu dengannya, tapi saat melihat senyumnya aku merasa kedamaian. Terpaksa aku menjabat tangannya.

"Aku Fado. Kamu?"
"Vina" Jawabku lirih. Aku menyeruput kopi hangatku.
"Jadi.... Kau kenapa?"
“Aku kehilangan segalanya. Tidak memiliki siapapun. Aku kesepian, tidak tahu harus berbuat apa dan kemana.” Aku menangis dengan penuh sesak, kepalaku terasa semakin pening, aku terbatuk-batuk. Tapi aku berusaha untuk melanjutkan ceritaku, dia tidak menyuruhku untuk berhenti bercerita.

Sentuhan lembut jatuh di pipiku. Dia yang ada di hadapanku sekarang menyeka seluruh air mataku, tersenyum hangat. Senyumnya yang sangat hangat seperti memberikan tanda bahwa dia ingin bicara “jangan khawatir, aku ada di sini”.

"Banyak yang ingin kuceritakan, namun aku tak mampu. Hampa. Mungkin satu kata itu sangat pas untuk saat ini"
Pelukan hangat, itu yang kurasakan sekarang. Dia memelukku erat dan membiarkan aku menangis dipelukkanya, membiarkanku membagi semua bebanku. Aku baru saja mengenalnya, tapi pelukan itu membuatku tenang, aku merasakan kehangatan menyelimuti hatiku.

“Aku antar ke rumah sakit ya? Badanmu panas sekali, aku takut terjadi sesuatu denganmu” itu perkataan terakhir yang ku dengar. Ternyata aku pingsan dalam pelukannya. Saatku tersadar aku sudah berada di rumah sakit, dia tidur di sebelahku.

Aku memandanginya, dia tertidur pulas. Wajahnya teduh seperti malaikat. Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu bisa hadir di saat yang sangat tepat? Air mata membasahi pipiku. Dia terbangun.

“Kamu baik-baik aja? Aku senang kamu sudah sadar” Dia menyeka air mata yang baru saja membasahi pipiku. Aku menyentuh tangannya. Dia tersenyum.

“Kamu siapa? Kenapa kamu sangat baik dan peduli sama aku?” tanyaku.
"Terkadang, kamu hanya perlu pahami. Bahwa ada seorang yang selalu memperhatikanmu namun selalu kamu abaikan. Tapi itu tak menjadi masalah buatku. Tenanglah, anggap saja aku malaikat kecil yang sejak dulu memperhatikanmu, namun tak kau sadari."
Lalu, dia pergi meninggalkan ruangan ini.

"Jadi dia itu..." Aku melepas paksa infusan di tanganku, turun dari ranjang, kemudian berlari mengejarnya.

Ini Namanya Ukhuwah, kan?

Kalau bukan dengan kesabaran,
Dengan apalagi kita menunggu datangnya cahaya?

Kalau bukan karena iman dan cinta,
Apa lagi yang mempu membuat kita bertahan di jalan ini?

Kalau bukan dengan sabar dan shalat,
Lantas dengan apa kita kuat ketika diguncang badai permasalahan?
Kalau bukan ukhuwah,
Lantas apa yang mempersatukan kita dalam tiap ujian dan masalah?

Jadi, adakah ikatan yang lebih kuat daripada ikatan cinta karena iman dan taqwa, Sobat?

Sahabat,
Jikalau aku tertinggal di neraka dan saat kalian sedang mencari teman untuk kau ajak ke surga,
Berjuta-juta orang kau lihat di dalam neraka,
Memanggil-manggil namamu untuk memohon diangkat dari keadaan itu,
Dan jika diantaranya ada aku yang tersiksa di neraka karena dusta di dunia,
Mulutku tak bisa berkata seperti yang lain memanggil-manggil namamu,
Apakah kau masih berusaha mencariku kawan?
Dan jika aku tertinggal di neraka dan saat itu telingaku tak bisa mendengar panggilanmu untuk kau angkat ke surga,
Apakah kah akan berpaling meninggalkanku kawan?

Sahabat,
Jarak mungkin bisa memisahkan raga kita
Tapi yakinlah bahwa hati kita masih terpaut satu sama lain
Jadikan rabithah sebagai pengikatnya
Agar erat ukhuwah ini, agar terjaga sampai ke jannah-Nya
Semoga Allah persatukan kita kembali di jannah-Nya.
Diberdayakan oleh Blogger.