Terik
matahari yang masuk ke kamar menyilaukan pandanganku. Pandanganku menjadi kabur.
Aku melamun di pinggir kasurku.
“Sasha…”
Aku
mendengar ada seseorang yang memanggil namaku, tapi takku indahkan. Aku masih
tenggelam dalam lamunanku. Teringat akan kejadian itu, ternyata sudah dua tahun
berlalu. Tak terasa. Masa masa itu sudah kulewati tanpanya. Ku kira aku tak
bisa bertahan karena kehilangannya.
Orang
tadi, masih memandangiku dan menungguku rupanya. Ah, aku tetap tidak peduli.
Aku terlalu sibuk dengan lamunanku sendiri. Mataku buram memandang sekelilingku.
Mungkin, sesaat lagi aku akan jatuh pingsan. Semoga tidak, kuharap.
Dua
tahun lalu. Hari yang benar-benar tak pernah bisa kulupakan. Hari itu aku
mendapatkan kabar bahwa kamu telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Iya,
kamu. Aku sempat kacau, tak mempercayai berita itu.
Esoknya,
aku datang ke rumahmu untuk memastikan. Apa kamu tahu? Saat aku sampai di
rumahmu, aku langsung diantarkan ke suatu tempat yang akhirnya membuat kakiku
bergemetar di tempat itu, air mataku terjun bebas membasahi wajahku, bibirku
memucat tak bisa berkata-kata. Tempat itu, tempat pemakaman umum. Aku melihat
nisan bertuliskan namamu di atasnya. Mataku buram, aku tak sadarkan diri.
Orang
yang ku abaikan sedari tadi ternyata sekarang duduk di hadapanku, masih
memandangiku. Aku tersadar dari lamunanku.
Aku
tersontak kaget melihat seseorang yang ada dihadapanku. Apa itu kamu? Atau aku
masih belum tersadar dari lamunanku? Ah tidak mungkin. Bagaimana bisa kamu ada
dihadapanku sekarang?
“Ka…..ka..kamu..”
ucapku terbata-bata. Dia hanya tersenyum teduh. Benarkah itu kamu?
“Sha..
Aku pernah berjanji akan selalu ada di setiap ulang tahunmu, bukan? Akan aku
tepati janjiku Sha. Selamat ulang tahun, cantik. Tak perlu lagi bermimpi
bersamaku, karena aku ada di sini untuk kamu” ucapan itu diakhirnya dengan
senyuman. Sesuatu yang selalu ku suka darinya.
“Van…”Begitulah
aku memanggilnya. ”Kamu ada di sini? Kamu nggak akan pergi lagi kan? Terima
kasih Van untuk semuanya.. Kamu selalu ingat hari bahagiaku, bahkan aku pun tak
mengingat hari ini” Air mataku mengalir. Aku tak menyangka ini akan terjadi.
“Aku
selalu ingat semua tentangmu Sha.. Sekarang tiup lilinnya ya” ucapnya
Aku
memejamkan mataku untuk membuat harapan sebelum aku meniup lilin itu. Kemudian
aku meniup lilin itu. Syukurlah, aku masih bisa merayakan ulang tahunku
bersamamu lagi.
Saat
aku membuka mata, kamu sudah tidak ada lagi dihadapanku. Kue ulang tahun, lilin
ulang tahun, dan kamu. Hilang.
Ahh
setidaknya aku senang hari ini. Kamu ada di sini bersamaku.
“Selamat ulang tahun, cantik.”
