Marah. Kecewa.
Mungkin kata itu yang masih sama-sama kita rasakan
Setelah semua yang sudah terjadi, apakah aku tidak boleh marah?
Jelas saja aku marah, atau mungkin kamu juga marah
Saat itu aku sudah berusaha semampuku untuk membuat suasana antara kita menjadi lebih baik
Namun disaat aku berusaha memperbaiki, mengapa justru kau berbuat sebaliknya?
Kau sendiri yang membuat jarak antara kita semakin jauh
Ah tidak. Ku rasa kau pasti berfikir seperti itu juga tentangku.
Kalau sudah begini, apa yang harus kulakukan?
Kita masih saja merasa paling benar
Ternyata ego kita masih menang dalam keadaan ini
Jarak yang tercipta kini semakin jauh, kawan
Jangankan untuk menyapa, untuk senyum ketika bertemu saja rasanya getir
Jangankan tersenyum, untuk bertemu saja rasanya enggan
Saling menghindar.
Itulah yang kita lalukan hingga sekarang.
Jujur, aku risih dengan keadaan yang seperti ini
Kumohon, mengertilah...
Setelah hari itu, tidak akan ada hal yang sama lagi
Mengertilah...
Aku tak ingin memutuskan tali persaudaraan antara aku denganmu
Kau terlalu baik, sahabatku..
Aku tak bisa kehilangan sahabat baik sepertimu
Kita sama-sama tahu, ini bukan hal yang baik
Tapi, kenapa kita masih saja seperti ini?
Beribu kata maaf sudah kuucapkan
Namun, sampai sekarang aku tak mendapatkan kata darimu bahwa kau memaafkanku
Andai saja berbuat salah itu bukan hal yang manusiawi, maka aku akan menyuruhmu untuk tidak memaafkanku
Tapi, tolong jelaskan padaku sejenak. Apa salahku?
Semarah itu kah kau padaku?
Kumohon, maafkan aku kawan..
Aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu
Dan aku yakin kau pun juga tak bermaksud seperti itu. Benar kan?
Mari kita awali semua dari awal lagi. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya
Beri aku kesempatan untuk bisa tetap menjadi sahabatmu
Jangan biarkan kita semakin tenggelam dalam lautan amarah.
Tersenyumlah ketika kau melihatku
Sapa lah jika kau ingin menyapaku. Jangan menghindar lagi
Aku tak ingin kita sama-sama menjadi orang yang merugi karena memutus tali persaudaraan.
Kumohon, mengertilah...
